Kamis, 04 Agustus 2016

Spirit of Creativity. Memacu Adrenalin Di Situ Cileunca

arung jeram situ cileunca
Bergelayun, dan melesat di seutas tali baja di atas danau. Mengarungi sungai dan jeramnya sambil teriak. Aaahhhh! Byuurrr! Itu adalah salah dua kegiatan yang dilakukan civitas Sygma Media Innovation di Situ Cileunca, pada Sabtu, 29 Juli 2016 kemarin.

Tidak hanya flying fox dan arung jeram saja, fun outing yang bertema Spirit of Creativity ini juga sebelumnya melakukan pemanasan dengan beberapa permainan kekompakan, asah konsentrasi dan kreatifitas.

------

Berangkat dari kantor di bilangan Babakan sari, Kiaracondong, sekitar jam 07 pagi. Berpuluh orang diangkut dengan 7 kendaraan pribadi. Sengaja berangkat pagi karena khawatir terjadi kemacetan di akhir pekan, apalagi tempat yang kami tuju adalah kawasan wisata.

Situ Cileunca terletak di Desa Warnasari, kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Sekitar 45 Km dari Bandung, perlu waktu sekitar 2 jam untuk mencapai lokasi. Itu kalau pakai kendaraan pribadi, kalau pakai kendaraan umum pasti lebih lama. Ga kebayang deh, sumpeh.

Tapi ga bakalan nyesel deh kalau main ke sana, suer. Sepanjang jalan selepas Banjaran kita akan disuguhi pemandangan indah khas pegunungan. Apalagi kalau sudah dekat ke Cileunca-nya, di kanan-kiri jalan terbentang kebun pinus, di kejauhannya menjulang gunung-gunung. Entah gunung apa, saya berpikir mungkin itu Gunung Tiga Jari, tempat dihukumnya Sun Go Kong, hehehe.

arung jeram situ cileunca
Pemanasan dulu dengan game yang interaktif dan kreatif
Perjalanan, kehebohan di jalan, rundown acara, dan menu makan siang tidak akan saya bahas di sini. Saya hanya akan membahas dua kegiatan yang lumayan berkesan dan membuat adrenalin saya terpacu.

Flying Fox
Ini game yang membuat saya deg-degan dan perut mules. Secara gitu lho, saya itu orang yang takut ketinggian. Eh, sekarang malah disuruh gelayutan dan melesat di ketinggian, melintasi danau pula, dari sisi satu ke sisi satunya lagi. Ada mungkin berjarak 500 meteran mah.

arung jeram cileunca
Ini dia jalurnya, mengerikan bukan?
Saya memilih giliran terakhir. Pura-puranya ngatur peserta, bantuin pasangin tali, dll. Padahal ngerasain nih jantung dag-dig-dug, dan perut mules. Saya ngebayangin;  gimana kalau ketika meluncur tiba-tiba di tengah-tengah danau berhenti. Padahal di tengah-tengahlah titik terendah tali terhadap permukaan danau. Terus, ketika berhenti gimana kalau tiba-tiba ada buaya raksasa muncul, atau anakonda yang loncat, atau gurita raksasa, atau mak Lampir, atau Karin Novilda yang loncat dari dalam air dan meluk saya. Owww...

Hingga akhirnya tibalah giliran saya. Asli deh, lutut terasa gemetar ketika menaiki tangga. Makin gemetar ketika sudah sampai di atas, makin gemetar ketika petugas memasangkan alat pengaman. 

Dan, saya didorong dengan tidak berperikemanusiaan! Dalam hitungan detik saya serasa hilang kesadaran, tidak teriak apalagi tertawa. Baru kemudian angin menyadarkan saya, dan saya harus teriak, aaahhhhh....Allahu Akbaaarrr...!

flying fox cileunca
Foto ini bukan saya, sumpah. ini Mr. Eman
Siing! Saya meluncur di atas danau berair hijau (atau biru? Entahlah, saya masih shock). Jarak 500 meter sebenarnya sebentar untuk flying fox, saya pun melihat demikian ketika orang lain melakukannya. Tapi bagi saya lumayan punya waktu untuk benar-benar menikmatinya. Saya baru benar-benar menikmati ketika sudah lebih separuhnya jarak terlewati. Kilatan air danau yang tertimpa sinar matahari laksana taburan pecahan kaca. 

Melihat ke depan, pucuk-pucuk daun bambu bergoyang. Seketika, saya teringat film Croucing Tiger Hidden Dragon, dimana ada adegan Chow Yun Fat loncat-loncatan di pucuk-pucuk pohon sambil menenteng kresek hitam berisi bala-bala dan sorabi panas.

flying fox cileunca
Menyebrang kembali. Sekarang senyum, tadinya teriak dan pucat
Jleg. Akhirnya sampai juga dengan selamat di seberang. Masih deg-degan, masih gemeteran, tapi ada kepuasan, tapi ada kesenangan. Hingga nyeberang lagi dengan perahu, tali baja dari ujung ke ujung saya tatap; gila, bisa juga gua akhirnya. Sampai lagi di seberang, kok jadi pengen naik lagi ya? 

Ternyata ketakutan itu bukan untuk dihindari tapi dihadapi.

Arung Jeram
Jujur deh, ini adalah kegiatan yang baru pertama kali saya lakukan. Seumur-umur belum pernah. Sering mendengar namanya, arung jeram, tapi belum sekalipun melakukannya. Paling banter waktu kecil, mandi di sungai menaiki batang pohon pisang yang dipasak berjejer. Itupun kalau masuk kategori arung jeram.

Wisata di situ Cileunca memang arung jeram primadonanya. Tempatnya di sungai Palayangan, yang sumber airnya adalah situ Cileunca.

flying fox cileunca
Istirahat sambil menikmati kelapa muda. Nyam..nyam..
Sebelum naik perahu, kami dibriefing dulu sama pendamping di sana. Sumpah lucu parah. Tuh si pendamping, yang ngakunya bernama Kang Raja cara menyampaikannya begitu kocak, serasa menonton Stand Up Comedy deh.

"Ingat, kalau anda kecebur atau jatuh ke sungai jangan panik. Kami sudah sediakan tim rescue di pinggir sungai. Nanti tim rescue akan melemparkan tali kepada Anda dan berteriak' Tali..tali..tali'. Ambillah ujung talinya, nanti tim reshcue akan menarik Anda. Awas, jangan salah pendengaran ya, mentang-mentang kecebur terus panik, tim rescue teriak tali..tali, eh kedengarannya tai..tai, jadi we menghindar. Susah jadinya".

arung jeram cileunca
Kang Raja in action. Menjelang arung jeram
Itu salah satu gaya menerangkan Kang Raja. Kontan membuat kami terbahak. Lumayan mengendurkan ketegangan.

Kami tidak langsung nyebur ke sungai, tapi mendayung dulu dari tepian situ Cileunca hingga pintu air. Pintu air inilah selain pengendali debit air juga sebagai hulunya sungai Palayangan. Selama mendayung ke pintu air kami banyak diberi arahan oleh pemandu bagaimana berarung jeram yang baik dan aman. Ada beberapa istilah dari pemandu yang mesti diperhatikan nantinya, misalnya boom, itu istilah yang memberitahukan kalau di depan ada jeram, kita diperintahkan untuk berpegangan dan menundukkan badan. Terus ada istilah goyang, ini dilakukan ketika perahu nyangkut di bebatuan, fungsinya agar perahu bisa bergeser dan kembali melaju. Pemandu membebaskan gaya bergoyangnya seperti apa, bisa goyang ngebor Inul Daratista, goyang gergaji Dewi Persik, goyang ngecor Uut Permatasari, atau goyang itik Zaskia Gotik. Terserah!

arung jeram cileunca
Mendayung sampai jauh. Berat juga mendayung itu ya...
Setelah sampai di pintu air, kami turun dan beramai-ramai menggotong perahu menyeberangi jalan kemudian turun ke sungai. Kurang lebih ada 6 perahu yang siap meluncur.

Bagi yang sudah terbiasa atau petualang profesional, sungai Palayangan mungkin bukan apa-apa. Tapi bagi kami, yang lebih banyak hidup di ruangan ber-AC, duduk dan menatap komputer maka ini adalah petualangan yang luar biasa.

Satu per satu perahu melaju. Saya dan tim ada di posisi ke lima. Arus air sungainya begitu besar, jernih dan dingin. Di kiri dan kanan sungai dipagari tebing tanah dan pohon-pohon pinus.

Selang beberapa saat dari depan terdengar teriakan-teriakan histeris diiringi tertawa. Dan benar saja, di depan sudah menunggu jeram. Boom! Teriak pemandu. Sontak kami menundukkan badan dan berpegangan erat dengan tali-tali di perahu. 

Dan, Byyuurrr! Perahu kami nyungsep, setengahnya ditelan jeram. Kami teriak, terutama saya, entah kenapa kami teriak. Kaget, takut, atau senang? Entahlah, seolah memang semestinya begitu. Tapi kemudian setelah lepas dari jeram kami semua tertawa.

arung jeram cileunca
Ekspresi tanpa rekayasa.
(tapi yang baju merah ga segitunya juga keless)
Badan basah, dingin mulai merayap, tapi seolah kami ketagihan meluncur di jeram. Hingga tibalah di jeram yang paling tinggi dan dalam. Namanya Curug Domba. Jangan bertanya kenapa dinamai Curug Domba. Saya juga tidak tahu.

Di jeram Curug Domba ini teriakannya paling kenceng, paling histeris, ekspresi pesertanya paling heboh (bisa dilihat di foto), paling banyak minum air. Iyalah, pas meluncur kita teriak, mulut lagi mangap berliter-liter air menerpa. Kenyang deh.

Setelah Curug Domba, jeram-jeram selanjutnya relatif landai dan tidak membahayakan. Tidak terasa dua jam sudah kami mengarungi sungai Palayangan. Dari hulu sungai hingga finish berjarak kurang lebih 5 kilometer. Setelah nyampe finish, serentak para peserta berloncatan ke sungai. Kesegaran dan kejernihan air sungainya begitu menggoda. Pengennya sih berenang terus tapi apa daya dinginnya minta ampun.

Dari pemberhetian akhir ke camping ground kami dijemput dengan mobil bak, mobil yang memang khusus menjemput para peserta arung jeram. Tadinya saya mau pulangnya naik perahu karet lagi, mendayung ke hulu, tapi sayang tidak ada petugas yang mau saya ajak mendayung. Hehehe..

arung jeram cileunca
Meskipun baju orange tapi hati tetap biru. I Love Persib #VikingOrange
Singkat cerita, acara beres sekitar jam 4 sore. Setelah makan, foto-foto, dan pembagian kaos kamipun pulang. Pulang membawa kesenangan, keseruan, kenangan, semangat sekaligus lelah. Capek dan perut kenyang adalah dua alasan tepat untuk segera tidur dalam mobil.

arung jeram cileunca
Horeee..... I'll be back!
I'll be back!
Kembali ke Bandung, kembali ke rutinitas, memupuk jenuh, menanam lelah. Hingga suatu saat nanti tiba saatnya untuk melepasnya. Dengan arung jeram lagi, flying fox lagi? Entahlah.




Minggu, 24 Juli 2016

Kalahkan Pokemon Go Dengan Permainan Tradisional

Kalahkan Pokemon Go Dengan Permainan TradisionalIni berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya, tentang permainan Pokemon Go. Tidak memperbincangkan segala kontroversinya, tapi saya menyoroti teknologinya secara umum. Ya, betapa teknologi telah meracuni mereka. Teknologi telah merenggut anak-anak dari budaya mereka, termasuk permainan.

Coba saja tanya mereka, apakah mereka tahu permainan gasing, petak umpet, congklak, gobak sodor, lompat tali, bebentengan, adu kelereng, egrang, atau bekel? Pasti mereka tidak tahu. Anak-anak sekarang lebih familiar dengan permainan yang terinstal di smartphone mereka semacam Plant vs Zombie, Clash Royale, Alto's Adventure, Angry Birds, Clash of Clan, Getrich, Rayman Adventures, dan yang terakhir dan booming; Pokemon Go.

Permainan  tradisional adalah permainan anak-anak zaman dulu yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Kebanyakan permainan tradisional dilakukan dengan cara berkelompok. Ini dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat zaman dulu yang banyak mengarahkan dan menuntun anak-anak pada kegiatan sosial dan kebersamaan yang tinggi.


Permainan tradisional merupakan kekayaan budaya lokal yang seharusnya dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran pendidikan jasmani  dan karakter anak, tapi justru tergeser dengan munculnya berbagai permainan yang dapat diunduh secara online di komputer atau gadget.

Orang-orang zaman dulu tidak sembarangan dalam menciptakan aneka permainan bagi anak-anak mereka. Permainan yang tercipta tentunya sarat makna dan nilai-nilai budaya  yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.


Sedangkan aneka permainan yang berbasis teknologi dan sekarang marak diunduh via smartphone adalah permainan yang tidak berdasarkan budaya. Kalau pun ada yang berbasis budaya, maka budayanya sangat tidak sesuai dengan budaya dan karakter kita.

Minim Narasumber
Meski begitu kita tidak seharusnya menyalahkan anak-anak kita atas ketidaktahuan mereka dengan aneka permainan tradisonal itu. Ada faktor yang menyebabkan kenapa permainan tradisional tidak populer di dunia anak-anak sekarang. 

Menurut Zainal Alif dari Komunitas Hong, tidak adanya nara sumber (orang tua atau dewasa) yang mengajari mereka permainan tradisional dan keterbatasan bahan-bahan yang digunakan adalah faktor penyebabnya.

Para orang tua zaman sekarang kebanyakan adalah para pekerja yang banyak kesibukan. Pemberian smartphone atau gadget dianggap lumrah sebagai konpensasi mereka akan ketiadaan waktu bersama anak-anak. Ini pula faktor yang menyebabkan anak-anak lebih akrab dengan permainan modern daripada permainan tradisional.

Nilai Positif Permainan Tradisional
Banyak nilai-nilai positif yang bisa didapatkan dari permainan tradisional yang bisa menjadi dasar pembentukan karakter anak. 
  1. Anak mudah beradaptasi, imajinatif dan kreatif
  2. Melatih ketrampilan sosialisasi dan negosiasi 
  3. Mensimulasikan peran sosial dalam masyarakat
  4. Membiasakan aktivitas fisik
  5. Belajar menerima kekalahan dengan lapang dada

Nah, menimbang begitu besarnya manfaat permainan tradisional buat anak mungkin kini saatnya para orang tua untuk mulai mengajarkannya kepada anak-anak Anda. Ya, sekaligus bernostalia, mengingat masa-masa kecil dulu. Menyenangkan bukan?

Dengan menceritakan dan mengajarkan aneka permainan tradisional pada anak-anak maka kita telah melakukan tiga hal sekaligus. Pertama, melestarikan budaya bangsa. Kedua, membentuk jiwa,  dan karakter anak dengan "ruh" bangsa sendiri, dan Ketiga mempererat hubungan anak dn orangtua yang terenggut dengan smartphone dan gadget.

Siapa tahu dengan permainan tradisional ini Pokemon Go dapat terkalahkan!

Apa saja permainan tradisional yang Anda tahu? Berbagi yuk!

Kamis, 21 Juli 2016

Pokemon Go. Negatif vs Positif dan Keresahan Orang Tua

http://tuturahmad.blogspot.co.id/

Pokemon Go. Negatif vs Positif dan Keresahan Orang Tua - Beberapa waktu belakangan ini kita banyak dihebohkan dengan pemberitaan tentang Pokemon Go. Apa itu Pokemon Go?  Pokemon Go adalah sebuah permainan realitas dalam Android yang dikembangkan oleh Niantic, sebuah perusahaan sempalan milik Google. Meski saat ini versi resminya baru terbatas di negara seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru dan Jerman. 

Di Indonesia Pokemon Go sebenarnya belum rilis, tapi sebagaian orang sudah ada yang bisa memainkannya. Mereka dapat mengunduhnya dari situs-situs aplikasi dan game.

Konon dalam 24 jam setelah rilis, Pokemon Go mampu meraih posisi Top Grossing (Paling Populer) di klasemen App Store. Pokemon Go juga menjadi game tercepat untuk masuk jajaran atas pada App Store dan Google Play, mengalahkan Clash Royale. Pada tanggal 13 Juli 2016 saja, Pokemon Go telah diunduh sebanyak 15 juta kali!

Negatif vs Positif
Setiap sesuatu yang dihasilkan baik itu produk fisik atau sebuah keputusan pastinya akan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, tak terkecuali Pokemon Go.

Ada yang menilainya dari kacamata agama, psikologis, sosial, kesehatan, maupun bisnis. Sah- sah saja sih, setiap orang bebas menilai dan berargumen sesuai cara pandang dia terhadap masalah itu.

Bagi orang yang berpandangan negatif maka Pokemon Go akan dilihat jauh dari kata manfaat, baik bagi kesehatan, psikologi, sosial, terlebih manfaat secara religiusitas. 

Memang apa manfaatnya sih, jalan ke sana ke mari, grusak grusuk mantengin Hape nyari-nyari monster? Yang jelas itu membahayakan, apa lagi kalau nyari monsternya di jalan raya. Secara produktifitas kerja, para pencari monster itu jauh dari kata produktif. Dari sisi agama apa lagi, mereka menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia, tidak syar'i, belum lagi tokoh-tokoh Pokemon jauh dari Islami dan banyak menampilkan simbol Zionis.

Bermain Pokemon Go dalam waktu lama sangat tidak baik bagi kesehatan dan psikologis seseorang. Seorang yang terlalu lama bermain Pokemon Go akan mengalami penurunan kecerdasan, kehilangan kepekaan sosial,etika dan empati, abai dengan hal lain, emosi yang tidak stabil, dan kelelahan.

Menurut pengamat sosial dari UGM Derajad Widhyarto, wabah Pokemon Go menimbulkan efek Pseudo Sosial yaitu sebuah keadaan yang membuat orang seolah-olah berinteraksi sosial padahal kenyataanya tidak.

Bayangin aja, meski yang memainkannya banyakan, hilir mudik orang, apakah mereka saling kenal dan berinteraksi? Tidak. Mereka fokus pada smartphone mereka masing-masing.

Lain yang negatif (tidak suka) maka lain lagi dengan yang positif (suka). Bagi orang-orang yang menyukai game Pokemon Go mereka pun memiliki segudang alasan kenapa mereka menyukai game ini.

Game Pokemon Go bukanlah bentuk game yang mengajak pemainnya diam duduk dan mengurung diri di kamar. Permainan ini mengajak pemainnya aktif berjalan dan menjelajah di luar ruangan guna menangkap monster. Berjalan merupakan aktivitas fisik yang dapat berdampak positif bagi kesehatan manusia secara keseluruhan.

Bagi penderita stress dan depresi, Pokemon Go setidaknya bisa dijadikan terapi dalam mengurangi gejalanya. Penderita depresi biasanya merasa tidak dapat bersatu dengan lingkungan sosial mereka, akan tetapi dengan memainkan Pokemon Go mereka akan dapat memulai berinteraksi dengan orang lain. Bisa dengan bertanya kepada pemain lain tentang cara memainkannya atau strategi menangkap sang monster.

Hal itu bisa disebut sebagai terapi perilaku Kognitif dimana pola pikir individu dapat merubah perilaku orang tersebut. Orang yang depresi pada dasarnya cenderung pemalu, dengan ikut bermain Pokemon Go maka ia akan terpancing untuk memulai pembicaraan baru dan itu merupakan hal positif bagi kehidupan sosialnya.

Dengan berjalan-jalan di luar ruangan mencari monster mampu meringankan beban pikiran, setidaknya mampu mengalihkan pikiran dari permasalahan yang ada; beban hidup, pekerjaan, kesenjangan sosial, dan lain sebagainya.

Pokemon Go mungkin digandrungi bukan karena kecanggihan teknologinya, tapi karena menawarkan realitas baru yang menyelamatkan kita dari jerat rutinitas yang membosankan.

Bagi anak-anak, bermain Pokemon Go dengan waktu yang terkontrol mampu memberikan efek positif bagi perkembangan anak. Anak akan lebih bersemangat dalam mencapai kemenangan. Memiliki strategi dalam pemecahan masalah, dan kepercayaan diri dalam berinterkasi dengan lingkungan sosialnya.

Sikap Orang Tua
Saya sendiri sebagai orang tua lebih memilih toleran. Toleran disini bukan berarti memberikan kebebasan tapi memberikan kesempatan dan waktu bermain (termasuk Pokemon Go) dengan pengawasan atau kontrol. 

Pendampingan orang tua saat anak-anaknya bermain game di gadget sangat diperlukan. Ada hal-hal, seperti karakter, aturan main, dan cara bermain yang perlu penjelasan dari orang dewasa terhadap mereka. Biar bagaimanapun anak-anak kita sedang memainkan peran dalam dunia yang tidak nyata.

Biarkan mereka tahu dan mencoba sesuatu yang memang hadir di masanya selama itu tidak membahayakan mereka secara fisik dan akidah.

Adanya pro dan kontra Pokemon Go bisa dijadikan bahan diskusi antara kita sebagai orang tua dan anak-anak. Jelaskan kepada mereka kenapa banyak yang menolak dan kenapa banyak pula yang menyukainya. Biarkan mereka menilai dua kubu yang bersebrangan ini. Meski pemahaman akhir kitalah yang menentukan.

Yang perlu dilakukan oleh kita, saya misalnya, adalah memastikan lokasi tempat bermain Pokemon Go yang aman, sudah dikenali, dekat dengan rumah, dan bermain bersama-sama orang yang sudah dikenal.

Selanjutnya adalah batasan waktu. Saya akan membatasi waktu bermainnya tidak lebih dari dua jam. Karena kalau lebih dari dua jam akan sangat tidak baik bagi mereka.

Mendampingi mereka bermain, memberikan batasan waktu untuk bermain dan mengingatkan mereka bahwa masih ada kegiatan lain yang lebih penting dari Pokemon Go setidaknya lebih bijaksana ketimbang kita melarang mereka melakukan seuatu tanpa alasan yang jelas.

Kesimpulan
Apapun jika dilakukan secara berlebih maka tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Pun begitu dengan game Pokemon Go.

Membiarkan anak-anak kita memainkannya dengan bebas, tanpa bimbingan atau pengawasan, dan tanpa batasan waktu akan sangat membahayakan baik terhadap kesehatan, fisik, mental, kecerdasan, emosi dan kehidupan sosialnya.

Begitupun sebaliknya, jika kita mengekangnya, melarangnya tanpa mau menerangkan apa penyebab kita melarangnya maka akan menimbulkan rasa ketidakpercayaan mereka kepada kita, sikap memberontak, dendam, berbohong, dan tidak percaya diri.

Dampingi putra dan putri kita dalam tumbuh kembangnya bersama dunia yang memang berbeda dengan dunia kita dulu. Jangan paksa mereka melakukan apa yang kita lakukan dulu. Dunia bergerak maju, bukan mundur.

Ikuti perkembangan teknologi sehingga kita akan lebih tahu dari mereka, sehingga kita bisa membimbing mereka dengan benar.

Dan yang tidak kalah penting adalah menciptakan kegiatan-kegiatan positif dalam keluarga. Misalkan; memasak bersama, menghafal Al Quran bersama, berkebun, hikking, dll. 

Anak-anak yang disibukkan dengan kegiatan positif insya Allah tidak akan menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak berguna.

Selamat menjadi orang tua super!


Minggu, 19 Juni 2016

Cara Ngabuburit Dulu dan Sekarang

Alhamdulillah, ini hari sepuluh kedua di bulan suci Ramadhan. Sejatinya mau nulis blog itu di awal-awal Ramadhan, tapi nyatanya kesibukan cukup membuat badan dan pikiran ini lelah. Tak tahu mesti nulis dari mana.

Belum lagi mesti rebutan laptop dengan anak-anak yang lagi hobi main games, duh, akhirnya bapaknya yang mesti ngalah. Tadinya mau ngeblog agak malaman, selepas tarawih dan anak-anak tidur. Tapi, oladalah, yang namanya perut kenyang pasti bawaannya ngantuk. Jadinya bablas tidur hehehe...

Meski Ramadhan sudah beranjak di sepuluh hari kedua tak apalah, saya tetap akan menulis tentang ramadhan. Tentang kebiasaan saya mengisi hari-hari selama Ramadhan terutama saat menunggu waktu magrib, ngabuburit. Ya, sekedar berbagi pengalaman, berbagi kenangan dan ide, siapa tahu bisa berguna.

Sebenarnya tulisan ini keidean sama anak saya, Hasya, yang begitu suntuk menjalani hari-hari selama berpuasa. Kalau hari sekolah sih dia tidak bete dan suntuk dalam berpuasa karena dia pulang sore dari sekolah, belum lagi teman-temannya suka ngikut ke rumah, bermain sambil nunggu dijemput orang tuanya.

Tapi kalau libur, terutama sabtu dan minggu maka suntuknya kumat. Tv, laptop, dan tablet tak lagi mengasyikan. 

Melihat itu saya merasa kasihan, tidak saja kepada Hasya tapi juga ke anak-anak yang lain. Mungkin yang lain juga merasakan hal yang sama. 

Beda dengan orang dewasa yang tahu besarnya pahala mengisi waktu Ramadhan dengan aktifitas yang bermanfaat semisal tilawah, kajian, dll. Anak-anak hanya butuh sesuatu yang bisa mengalihkan rasa lapar dan haus mereka selama berpuasa.

Saya teringat masa kecil saya jika mengisi waktu luang ketika Ramadhan. Zaman dulu belum ada yang namanya android, tablet, laptop atau komputer. Tv pun hanya TVRI saja yang ada. 

MANCING
Saya dan teman-teman sering mancing di sungai di pinggir desa. Meski tak pernah dapat banyak tapi kegiatan memancing ikan ini cukup efektif dalam memangkas waktu.

Berangkat biasanya jam 10 pagi. Berjalan beriringan melalui pematang sawah menuju sungai.
memaning ikan - http://tuturahmad.blogspot.co.id/
Memancing Ikan. Sumber poto: Youtube.com
Ikan yang didapat bisa bermacam-macam; Jeler, Beunteur, Nilem, Bogo, Paray, dan lain-lain. Paling banter saya bisa kuat mancing selama 2-3 jam, sisanya mandi, bermain air, dan perang-perangan. Kebayangkan, lagi panas-panas kita berendam di air sungai yang dingin dan jernih. Wuiihhh....suegerr.

MAIN MERIAM BAMBU
Kami menyebutnya Lodong Karbit. Ya, sejenis meriam yang terbuat dari batangan bambu sepanjang 2-3 buku, atau sepanjang kira-kira 2 meter. Buku-buku bambunya dilobangi dengan linggis sehingga rongga bambunya tersambung. Di buku paling bawah diberi lubang untuk memasukan karbit sebagai bahan peledaknya

Lodong Karbit ini diisi air, kemudian dimasukin karbitnya, seukuran ujung jari juga cukup. Dibiarkan sekitar 5 menit, ketika suara gejolak karbitnya sudah mengecil, inilah saatnya Lodong Karbit disulut
meriam bambu - tuturahmad.blogspot.co.id
Meriam bambu. Sumber: Merdeka.com
Duuaaarrr.... Suara menggelegar sontak memekakan telinga. Kami tertawa dan berjingkrak, tak peduli para tetangga ngumpat-ngumpat.

Permainan ini kami lakukan menjelang sore hari, selepas ashar ke arah magrib. Lodong karbit akan semakin bersahutan jika menjelang Ramadhan berakhir

MAIN ULAR TANGGA/LUDO
Ada yang masih ingat permainan Ular Tangga dan Ludo, atau Halma? Untuk generasi 70-80 an saya pikir pasti masih ingat dan mengalami permainan ini.

Saya dan teman-teman sering memainkan permainan ini di teras rumah. Permainan ini biasanya dimainkan di pagi hari, sambil nunggu waktunya mancing ke sungai.

Selain di teras rumah, permainan ini sering kami lakukan di saung sawah. Di desa kami sawah masih banyak dan luas. Tiap pemilik bidang sawah pasti memiliki saung sawah, serupa bangunan terbuka di tengah sawah beratap ilalang atau genteng. Saung sawah berfungsi sebagai tempat petani beristirahat atau menyimpan pupuk.
ular tangga - tuturahmad.blogspot.co.id
Permainan legendaris, Ular Tangga. Sumber poto: detikindonesia.com
Di saung-saung sawah itulah kami ngabuburit dan bermain Ular Tangga, Ludo atau Halma. Saung sawah yang bertebaran itu semuanya pasti ada yang mengisi, anak-anak kecil yang sedang ngabuburit.

Itu kegiatan waktu kecil saya dalam mengisi waktu ketika Ramadhan.
Terus sekarang apa yang saya lakukan dalam mengisi waktu Ramadhan?
Kalau hari-hari biasa, Senin hingga Jumat saya bekerja, karena saya adalah seorang karyawan. Jadi hari-hari reguler tidak terasa waktu berlalunya. Ketika hari Sabtu dan Minggu, jika tidak ada acara keluar memang suka ada rasa suntuk.

TILAWAH
Ramadhan adalah bulan Al Quran. Tentu akan lebih baik jika hari-harinya kita isi dengan banyak berinteraksi dengan Al Quran. Ini juga yang coba saya lakukan.

Membaca dan men-tadabburi-nya adalah kegiatan yang biasa dilakukan umat muslim dalam mengisi Ramadhan. Dengan ikut program One day One Juz diharapkan di akhir Ramadhan saya bisa khatam Al Quran.

MEMBACA BUKU
Membaca buku adalah salah satu yang saya lakukan dalam mengisi waktu Ramadhan. Setelah pulang taraweh, menjelang azan Subuh, menjelang Dhuhur, dan menjelang Ashar biasanya waktu saya membaca buku.

Apapun bukunya saya baca. Novel, sirah, atau buku tentang keislaman lainnya.

MAIN INTERNET
Ini kegiatan lainnya yang saya suka. Saya lakukan ketika anak-anak sudah tidur, baik tidur siang ataupun tidur malam. Sebab kalau mereka belum tidur maka serta merta laptop mereka ambil alih hehehe.

Berselancar di dunia maya, selain membaca berita, biasanya saya #Blogging. Mengisi blog, mencari ide-ide tulisan atau #Resep masakan buat istri.

Itulah kegiatan mengisi waktu selama Ramadhan yang saya lakukan, baik ketika masih kecil dan sudah segede gini, hehehe.

Tiap orang pasti punya kebiasaan dalam mengisi hari-hari Ramadhan, juga kenangan waktu kecil ketika berpuasa. Yuk, bagikan ceritamu!

Minggu, 17 April 2016

Balada Ngontrak

Baru dua minggu ini saya dan keluarga menempati kontrakan baru. Letaknya di Komplek Pos dan Giro. Sengaja milih di sana karena lokasinya yang dekat dengan sekolah Hasya. Sekolah si sulung letaknya bersebrangan dengan perumahan kami, malah gerbang sekolahnyapun terlihat dari rumah. Jadi tidak perlu lagi pake mobil antar jemput.

Kalau dihitung dari pertama pindah ke Bandung karena Hasya sekolah, maka ini adalah kontrakan yang ke empat yang kami tinggali. Sebelumnya, dua kali pindahan di sekitar Cisaranten Kulon (6 bulan), terus pindah ke Cipagalo (1 bulan), dan sekarang kami di perumahan Pos dan Giro.

Kalau dihitung dari setelah nikah maka total sudah sebelas kali kami pindah kontrakan. Paling lama kami ngontrak selama 7 bulan, dan paling sebentar kami tiga minggu. Apakah tidak capek? Apakah tidak memiliki keinginan punya rumah? Pertanyaan klasik yang pasti sudah pada tahu jawabannya. Hehehe..

Impian Yang Belum Terwujud
Pastinya memiliki rumah bagi setiap orang, terutama yang sudah berumah tangga adalah impian. Malah, menurut saya memiliki rumah bukan lagi impian, tapi sebuah kebutuhan.

Tapi harga rumah sekarang, yang segede pos ronda saja, mahalnya minta ampun, apalagi jika lokasinya di kota. Sebelum Hasya sekolah, saya dan istri berencana mau ngredit rumah. Sebuah kelumrahan di jaman sekarang. Ada gitu yang beli rumah cash sekarang, apalagi sekelas karyawan? Tapi, ternyata ga dapet-dapet. Ga dapet yang bagus dan harga murah. Pengennya sih, dapat rumah yang bagus, minimal kamar empat, ada taman, garasi, lokasi di kota, tapi harga di bawah 200 juta!

Nyatanya susah banget. Ada yang murah tapi lokasinya di Baleendah atau Rancaekek, atau di Cileunyi sana (maaf bukan bermaksud menjelekkan lokasi tersebut, tapi rata-rata daerah-daerah tersebut dilewat setiap orang dari daftar pencarian rumah). 

Hingga kemudian tiba Hasya waktunya sekolah. Mutar muter cari sekolah yang bagus, Alhamdulillah dapat sekolah yang bagus. Meski menguras dompet dan tabungan, tidak apa-apalah, apapun yang terbaik demi anak.

Terus gimana rumahnya? Kita ngontrak lagi saja. Toh ngontrak bukan pekerjaan haram dan memalukan toh, sembari nabung, kumpul-kumpul uang dari (sisa) gaji, dari orderan, dari sumbangan orang tua, siapa tahu cukup buat DP. Itu rencana tahun lalu. Nyatanya, setahun berlalu tapi uangnya ga kumpul-kumpul juga. Oladalah...

Terus rumahnya gimana? Kita ngontrak lagi aja. Allah belum ngasih, masih nunggu waktu yang tepat buat kita. Dia Maha Tahu yang terbaik buat kita. Mencoba bijak dan soleh.

Mencoba Menikmati dengan Bersyukur
Saya dulu, hingga sekarang, bercita-cita ingin keliling dunia, tinggal dan hidup di negeri-negeri jauh, misalnya Francis, Inggris, Kanada, Belgia, Swiss, Belanda, Jerman, Turki, Selandia Baru, Afrika Selatan, dll. Ingin menginjakan kaki di belahan Bumi Allah yang lainnya. Cuman hingga detik ini belum kesampaian.

Kini, saya dan keluarga keliling sebagian wilayah Bandung. Ngontrak. Mungkin sebelum saya diberi kesempatan keliling dunia, saya mesti keliling Bandung dulu,  Hehehe.

Kami sikapi dengan bijaksana aja sih, buat apa juga ngeluh. Memangnya kalau ngeluh langsung ada yang ngasih rumah? Dengan pindah sana pindah sini justeru kami jadi banyak keluarga, banyak kenalan, banyak kerabat. Apalagi daerah sekitar Babakan sari, Kiaracondong, wuuiihhh bagaikan melihat telapak tangan sendiri. Di daerah sanalah kami pindah kontrakan hingga tujuh kali. Hafal betul daerah sana. Tiap lewat gang-gangnya pasti ada saja yang kenal dan menyapa.

Kadang saya suka ngobrol sama istri, mungkin Allah membiarkan kita ngontrak dulu supaya kita banyak melakukan kebaikan di tiap tempat. Sejauh mana kebaikan yang kita berikan di tiap tempat yang pernah kita tinggali. Setelah itu kami sering review tiap tempat yang kita singgahi dan pernah tinggal di sana. Alhamdulillah, seingat kami, kami belum pernah melakukan kejelekan, baik ke yang punya rumah ataupun ke lingkungan setempat.

Kami dengan yang punya kontrakan yang dulu-dulu juga masih sering komunikasi, saling menyapa jika bertemu. Ada ibu kontrakan yang sms nanyain sudah punya rumah belum, kalau belum ngontrak di ibu lagi saja. Ada ibu kontrakan yang nangis tersedu sambil meluk istri saya ketika kami mau pindah (mungkin karena pemasukannya berkurang ya..).

Tapi syukur Alhamdulillah, dari pengalaman ngontrak ini kami jadi bertambah saudara, jadi hafal daerah-daerah yang tadinya kami tidak ketahui. Mungkin itulah hakikatnya, supaya kami saling mengenal dan saling silaturahmi.

Terus gimn rumahnya? Ngontrak lagi aja. Tidak apa-apa ngontrak asal bahagia, anak-anak soleh dan soleha, tercipta keluarga yang memberi manfaat untuk lingkungan. Dari pada punya rumah, tapi tidak bahagia, tidak menjadi surga buat penghuninya.

Tulisan ini dibuat diiringi rintik hujan sore di bulan April, ditemani secangkir teh hangat dan goreng pisang buatan istri tercinta. Sambil sesekali melihat si sulung mengajari adiknya membaca.


Ya Rabb, tak ada sesuatupun yang terasa nikmat kecuali dilalui dengan rasa syukur. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu pandai bersyukur akan karunia yang Engkau berikan. Aamiin

Rabu, 23 Maret 2016

Momen Indah Seorang Ayah


Jika ditanya, apa momen terindah saya sebagai seorang Ayah?
Bagi saya, setiap saat bisa mendampingi buah hati adalah momen indah dan sangat berharga. Ketika pulang kerja anak-anak menyambut dengan pekikan bahagia adalah saat bahagia yang takbisa digambarkan. Saat anak-anak mencari dan membutuhkan saya untuk menyelesaikan masalahnya, baik mengenai pelajaran ataupun cuma membetulkan mainan adalah sebuah momen dimana saya merasa bangga sebagai Ayah yang dibutuhkan.

Setiap orang punya definisi sendiri tentang arti momen berharga bersama keluarga. Bagi saya sendiri momen berharga itu takmesti dalam suasana meriah, gempita pesta, makanan mewah, atau limpahan hadiah. Cukup dengan komunikasi dua arah dengan suasana penuh cinta itu sudah cukup dalam kategori momen indah bagi saya.

Tapi jika kalian tetap memaksa saya untuk tetap menyebutkan momen indah yang rutin terjadi dalam keluarga ya, saya akan sebutkan. Ada beberapa momen yang saya sangat menikmatinya ketika itu terjadi. Bukan hanya menikmati, tapi juga bahagia dan bangga. Apa saja itu?

Saat Sarapan Pagi
Sebelum berangkat kerja, saya dan keluarga; terutama saya dan si sulung Hasya selalu sarapan bersama. Sarapan bersama dalam satu piring. Istri yang nyiapin. Setelah saya dan Hasya beres berpakaian, sarapanlah kami.

Saya yang pegang sendok. Hasya saya suapin. Sesendok Hasya, sesendok saya.
Istri dan si kecil, Danish, biasanya hanya sarapan makanan kecil. Tapi takjarang Danish juga saya suapin. Kebiasaan ini sudah lama saya lakukan.

Sarapan pagi bagi saya masuk dalam kategori momen indah karena dikala sarapan ini saya dan anak-anak bisa berkomunikasi secara lebih dekat. Saya banyak menanyakan banyak hal terutama tentang perkembangan sekolahnya, pelajaran, gurunya, temannya, dan lain sebagainya. Tentang kesiapannya menghadapi hari ini, tentang rencananya hari ini bersama teman-temannya.

Dalam sarapan pagi bersama, saya juga mengajarkan kepada anak-anak untuk bisa bersyukur dengan apa yang kita punya hari ini, termasuk makanan. Hal biasa bilamana anak-anak malas sarapan karena menunya itu-itu saja. Seringnya kami sarapan pagi dengan telor ceplok. Selain praktis, juga murah. Pasti itu membuat bosan. Saat itulah saya sebagai ayah mencoba memberi pemahaman kepada anak-anak untuk tetap bisa bersyukur dengan apa yang dimakan hari ini.

Saya katakan, betapa di luaran sana begitu banyak anak-anak seusianya yang kelaparan, belum makan, tidak memiliki ayah-ibu, sekedar untuk makan saja mereka mesti bekerja, ngamen, mengemis, dan lain-lain. Bersyukurlah, karena kita di sini masih bisa sarapan pagi dengan nikmat meski hanya dengan telor ceplok, berkumpul bersama dengan keluarga, tidak kepanasan ataupun kedinginan.


Saat Berangkat Sekolah
Momen indah selanjutnya adalah ketika perjalanan ke sekolah. Kebetulan sekolah anak saya searah dengan jalan ke kantor. Setiap pagi saya membonceng Hasya berangkat ke sekolahnya, setelah itu saya lanjutkan berangkat ke kantor. Pulangnya dia pakai mobil jemputan.

Selama perjalanan ke sekolah, berboncengan, saya banyak ngobrol dengan Hasya. Saya bertanya apakah dia senang hari ini? Apakah dia senang bersekolah di sekolahnya? Kenapa saya bertanya seperti itu? Itu saya anggap penting karena siapa tahu sebenarnya anak tuh tidak siap sekolah hari ini, atau punya masalah di sekolahnya yang dia tidak mau cerita kepada orang tuanya. Saya pernah ikut seminar parenting, bahwa menanyakan apakah anak bahagia atau tidak dalam mengawali hari itu sangat penting. Itu untuk mengetahui kondisi psikologis anak pada hari itu. Jangan sampai anak membawa beban yang tidak terpecahkan dalam beraktifitasnya. Dukungan dan pelukan hangat orang tua sangat menguatkan dia dalam menjalani harinya.

Kami hanya berharap anak-anak bisa hidup dalam jalan dan tuntunan Al Quran dan Sunnah Rasul.

Saat perjalanan berboncengan ke sekolah, saya juga banyak menanyakan progres hafalan Quran-nya. Sudah sejauh mana dia menghafal surat-surat pendek, apa yang susah, dan mencoba mengajak murrojaah, membetulkan kesalahan pengucapan tajwidnya.

Dalam perjalanan yang singkat itu pula, saya sebagai Ayah mencoba menanamkan sedikit demi sedikit prinsip dan visi hidup keluarga yang coba kita bangun. Ibarat supir, saya memiliki rute perjalanan dan tujuan yang akan kita lalui. Inilah yang disepakati saya dan istri dalam membangun keluarga, dan ini pula yang coba saya jelaskan ke Hasya dalam perjalanan singkat ini. Tentu dengan bahasa yang sederhana, yang mudah dipahami anak seusianya.

Kenapa ini penting? Saya hanya mencoba menanamkan kepada anak tujuan hidup yang kami anggap benar dan menjadi landasan keluarga. Harapannya, semoga kedepannya anak kami sudah memiliki arah dan tujuan dalam hidup, tidaklah muluk, kami hanya berharap anak-anak bisa hidup dalam jalan dan tuntunan Al Quran dan Sunnah Rasul.

Selalu ada keceriaan pada saat mengantar Hasya. Selalu ada kebanggaan yang menyertai. Mengantar anak sekolah bagi saya sejatinya adalah mengantarkan sebuah benih mimpi besar yang kelak akan mewujud sebentuk sejarah. Sejarah keluarga atau peradaban.


Saat Solat Berjamaah
Momen berharga selanjutnya adalah saat solat berjamaah. Biasanya solat magrib dan isya. Saya sebagai imam, sedangkan istri dan Hasya takketinggalan Danish sebagai makmum.
Selalu haru dan bahagia ketika sebelum takbir saya berbalik kebelakang, memeriksa shaf. Melihat anak dan istri siap menjadi makmum dalam ritual penghambaan paling agung. Solat! Selalu bergetar suara ini tatkala melafalkan ayat-ayat suci. Betapa nikmat terbesar adalah karunia keluarga yang sehat dan soleh. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Meski tidak setiap saat si bungsu Danish bisa tertib dan ikut solat hingga selesai. Tetap saja kehadirannya dalam shaf membuat saya bangga untuk anak usia 2 tahun. Tak jarang dia malah berdiri di hadapan saya, memandang saya dan tersenyum menggemaskan, atau malah tidur telentang di tempat saya sujud. Bahkan, pernah dia joget  di hadapan saya ketika saya jadi imam pas denger musik dangdut dari tetangga sebelah.

Selepas solat berjamaah, kami tilawah bersama. Setelah selesai tilawah, istri biasanya cek tilawah dan hafalan Hasya. Sedangkan saya coba ngajarin Danish Al Quran. Saya hanya memperkenalkan Al Quran padanya. Saya tilawah dihadapan dia, murojaah di hadapan dia. Supaya dia tahu bahwa Al Quran adalah bacaan setiap saat keluarganya. Takjarang kami coba bacakan ke dia surat-surat pendek yang mudah dihapal. Semisal Al Fatihah, Al Ikhlas, An Nas, Al Falaq. Meski Danish hanya bisa mengucapkan akhirnya saja tapi itu membuat kami bangga.

Itulah momen-momen indah saya bersama keluarga. Setiap saat adalah momen berarti nan indah, tapi itulah yang mungkin bisa saya ceritakan kali ini. Terlalu panjang jika setiap saat mesti ditulis. 

Tiap orang memiliki momen-momen indah bersama keluarga dan orang-orang tersayang. Apa momen terindahmu?


Selasa, 08 Maret 2016

Misi Mengembalikan Tutur Ahmad

misi mengembalikan - http://tuturahmad.blogspot.co.id/

MENJALANI bulan kesepuluh dalam beraktifitas ngeblog (lagi). Saya mulai dihinggapi rasa bosan dalam nulis artikel atau postingan. Nah lho?

Sudah beberapa hari saya merenung, saya merasa belum jujur menjadi blogger.
Awal ngeblog tujuannya adalah latihan menulis. Apapun. Apa yang saya lihat, dengar, baca, alami, juga opini saya akan suatu hal. Sebuah blog yang menampilkan "inilah saya".

Nyatanya, seiring waktu berjalan saya mulai tidak komit dengan niat awal. Saya mulai tidak jujur dengan perasaan saya. SEO, iklan, dan popularitas di dunia maya mulai menggoda saya.

Saya kemudian lebih sering menulis tutorial adsense, tips blogging, dan masalah per SEO-an ketimbang menulis apa yang saya rasakan.

Ketika menulis tentang itu semua, kemudian mendatangkan komentar dan trafik yang banyak seketika saya merasa senang. Tapi di lubuk hati ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang semestinya ditulis berdasarkan hati. Sesuatu yang timbul dari pengamatan, pengalaman, dan perenungan. *apa istilahnya ya?

Ada banyak temuan yang urung saya tulis dan jadi postingan karena kalah oleh permintaan pemirsa, kalah oleh nilai keyword di googletrends, google adwords, atau ubbersuggest.

Saya jadi blogger yang jaim. Menulis apa yang disukai orang, bukan menulis apa yang saya rasa dan suka. Saya kehilangan idealisme dalam menulis, dan saya pikir ini masalah gawat dan mesti secepatnya dibenahi.

Solusinya adalah saya akan membuat blog baru dengan niche blog, dan blogger yang ngebahas masalah blogging, per-bloggeran, SEO, dan semacamnya. Karena saya suka ngeblog, dan berbagi ilmu. Jadi segala temuan tentang blog, dan saya rasa penting untuk dibagi maka akan saya share di blog ini.

O iya, blog baru ini juga saya jadikan blog monetize. Ladang mendulang dollar. Hehehe

Misi saya adalah mengembalikan TuturAhmad ke trek awal pembuatan. Sebagai sebuah ekspresi diri dalam menulis dan berpendapat juga beropini di dunia maya. Ciee * heroik banget.

Masalah share ilmu blog mungkin akan sekali-kali dibahas, meski tidak akan mendetil. Pembahasan detilnya paling diarahkan ke blog baru itu.

Jadi buat sobat yang setia berkunjung, pasti akan sedikit heran dengan blog kece badai ini yang tibatiba jadi hening. Si Akang ini akan coba menulis dengan "benarbenar" menulis, dengan hati. Trafik, keyword, SEO, dan tektekbengek lainnya akan diabaikan.

Meski begitu tetap berkunjung ya. Insya Allah perubahan ini tidak akan mengurangi kualitas tulisan, malah ini suatu upaya dalam peningkatan tulisan saya. Tetap berkunjung, tetap jalin silaturrahim. Salam.



WAJIB TAHU! INILAH CARA MENGETAHUI MADU YANG ASLI

Cara membedakan madu yang asli Meski madu bisa dibeli di banyak tempat, nyatanya tidak semua madu yang ditawarkan adalah madu asli. Banyak o...